Korupsi di Lembaga Peradilan: Bersyukur

Lagi seru sekarang semua mata orang Indonesia tertuju pada kasus peradilan yang ngelibatin KPK, Kejaksaan, Kepolisian, dan bahkan ada dugaan sampai dengan pejabat negara pada level yg lebih tinggi. Sudah lama memang penyakit ini menimpa negara kita, penyakit yang belum benar2 tuntas.

Sudah ganti pimpinan, ganti rezim, ganti undang, dan lain lain.. tapi baru kali ini kasus ini benar2 dibuka dan mendapat perhatian masyarakat. Sebelumnya udah banyak yang jadi korban..

Mulai dari kasus ratusan ribu..

Mulai dari kasus di kota kecil yang melibatkan kasus hak atas tanah ratusan meter.. sampai kasus di kota besar yang melibatkan kuasa atas tanah ribuan hektar…

Mulai dari korupsi cuma 50 ribu untuk uang rokok, sampai korupsi milyaran rupiah yang bisa buat beli saham di pabrik rokok.

Kita tidak pernah bersyukur akan apa yang kita miliki. Sudah sebegitu indahnya hidup kita dengan segala kelebihan dan kekuranganya, tp kita masih menginginkan apa yang bukan porsi kita. Kita ga pernah melihat ke bawah, ternyata ada orang2 yang lebih pahit hidupnya, dan mungkin tetap lebih bersyukur dari pada kita.

Tidak sadarkah kita bahwa hidup adalah anugerah?

Tiap cm3 udara yang kita hirup, tiap tawa canda yang kita peroleh..

Kesempatan sekolah.. kesempatan untuk memiliki waktu dengan orang2 yang kita sayangi..

kesempatan untuk mempelajari hal baru?

Bahkan saat kita menghadapi cobaan, pernahkah kita bersyukur bahwa kita diberi kesempatan untuk belajar dari pencobaan tersebut?

Sadarkah kita bahwa hidup adalah anugerah, dan kalo melihat apa yang telah kita lakukan selama ini, harusnya kita mati?

hehehe.. Betapa beruntungnya kita bahwa kita hanya perlu mencari dan memperjuangkan peran kita di dunia sesuai dengan ‘jalan’ yang telah ada, dan sisanya akan diurus sama Invinsible Hands?

Bersyukurlah.. bersyukurlah dan bersyukurlah, karena hidup ini adalah anugerah..

Mengenai korupsi di Indonesia, sekarang waktunya kita berani pasang badan untuk bilang bahwa “Korupsi salah”.. dan yang paling penting lagi adalah bersyukur. Apakah kita cukup bersyukur untuk berani mengatakan yang benar dan pasang badan untuk kebenaran? Ataukah kita tidak bersyukur sehingga kita terlalu sibuk mempertahankan apa yang kita punya di dunia ini?

We don’t belong to this world guys. Our life in this worlds is just a training camp until we return to our real home. Don’t attach your heart to this world..

Be the light! Have the courage to do what’s right!

GKN? Apaan tuh?

GKN – Gerakan Kebangkitan Nasional?
oleh: Nehemia Sinaga

logogknAkhirnya kesampean juga nulis tentang hal ini.

GKN ato akrab dipanggil Gerakan Kebangkitan Nasional, slidenya bisa diliat di

http://www.slideshare.net/kmitb/gkn-km-itb-0809

Mungkin banyak yang udah pernah denger, mungkin banyak yang belum. Mungkin buat teman2 di ITB sudah beberapa kali liat logonya, sebuah  kapal2an dari kertas berwarna merah dengan tulisan warna putih “GKN” (yang bikin logonya namanya Febrian Adiputra DKV ITB 2006).

Ada yang udah ngerti GKN, ada yang ga peduli, ada juga yang pengen tau. Hohoho… Pengen cerita nih ttg GKN. Di tulisan ini saya cuma mau bercerita, makanya ga ada data2, ga ada studi literatur, semuanya murni pandangan saya sebagai manusia terhadap sebuah pemikiran yang saya yakini. Saya mengenal GKN dari teman saya yang sudah saya kenal dari tingkat 1, dulu kami sempat merencanakan membuat sebuah buku foto kota Bandung, dulu kita sama2 kru fotografi di LFM.

Tingkat 4, saya memutuskan untuk terlibat di Kabinet KM ITB 2009/2010, sebuah keputusan yang berat, namun tidak pernah saya sesali sampai saat ini. GKN adalah hal yang menjadi mimpi bersama kabinet. Dan ternyata GKN adalah mimpi yang selama ini saya rasa, namun selalu sulit bagi saya untuk GKN adalah sebuah perspektif baru, sebuah pola pikir di mana semua orang adalah individu2 yang penting dan memiliki peran yang sama besarnya. Semua orang telah dianugerahi talenta, telah dianugerahi identitas, telah dianugerahi semua hal yang melekat pada dirinya. semuanya dianugerahkan agar setiap orang mampu memenuhi peranya di dalam dunia ini. Di mana peran semua orang penting untuk mengelola dunia ini menuju kesejahteraan setiap umat manusia.

GKN artinya kita menerima bahwa kita punya kelebihan dan kekurangan, dan setiap orang juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan yang diberikan untuk suatu maksud, maksud yang tidak mampu  idefinisikan oleh akal budi manusia yang lemah ini dan bukan hak manusia untuk tahu. Dengan itu berarti kita tidak lagi perlu meratapi kelemahan kita, tidak perlu lagi menyombongkan kelebihan kita, tidak perlu lagi menggunjingkan kelemahan orang lain, tidak perlu lagi menjadi tuhan atas sesama kita, tidak perlu lagi mengucilkan diri sendiri ato orang lain, karena kita berharga bukan karena kita atau karena orang lain; tapi, kita berharga karena kita memang diciptakan seperti itu. Kita berharga dan orang lain juga berharga, itu adalah hal yang tidak perlu kita pergunjingkan lagi, dan kita semua diciptakan untuk satu tujuan bersama. Artinya, sekarang saatnya kita mencari tahu kebenaranya, apa sih yang kita miliki (kelebihan dan kekurangan), apakah maksud dan tujuan kita ada di dunia, dan bagaimana caranya mengembangkan apa yang kita miliki untuk mencapai tujuan tersebut. Bagaimana dengan orang lain? Tentunya mereka juga punya tujuan dan peran masing2. Peran yang bukan merupakan hak kita untuk menentukan, karena bukan kita yang menciptakan mereka. Yang terpenting adalah kita mendorong semua orang untuk mencari tahu kelebihan dan kekurangan mereka dan tujuan mereka ada. Karena panggilan hidup setiap orang berbeda, dan bukan hak kita untuk menentukan karena bukan kita yang menciptakan kita.. kalo kata August Rush “The music is all around, all you need to do is listen”.

GKN dan INdonesia?

Indonesia adalah sebuah negeri yang kaya, bahkan famille d’accueil (house family) saya di Strasbourg mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan negara yang muda yang harusnya lebih energik lagi untuk jadi setara dengan negara2 maju yang sudah jauh lebih tua. Mungkin seringkali kita bertanya2 “Duh, apa yang salah yah sama Indonesia?”, “Ah negara ini mah udah susah nih untuk dibenerin..”, “Gw bisa apa sih…” Dan banyak lagi gerutu-menggerutu, keluh-mengeluh, ratap-meratap, salah-menyalahkan.. Tapi sadar atau engga, kita diciptakan sebagai orang Indonesia, tentunya dengan tujuan. Pikirin deh, kalo emang kita ga ada artinya di negara ini, knapa ga kita dilahirin di negara lain aja?

“Indonesia adalah negara yang kaya dan negara yang muda yang harusnya lebih energik lagi untuk jadi setara dengan negara2 maju yang sudah jauh lebih tua.”

Kenapa kita HANYA sibuk membandingkan diri dengan negara lain tanpa melihat kelebihan dan kekurangan kita. Sebenarnya potensi kita apa, kelebihan kita apa, dan gimana cara ngembanginya. Lebih dalam lagi, saya sebagai orang Indonesia peran saya apa? Tentunya peran yang sesuai dengan kelebihan dan kekurangan dengan menyadari bahwa semua peran penting. Peran2 yang penting untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia yang sudah jelas ada di Mukadimah UUD 45. Yang saya tangkap adalah untuk mencapai kesejahteraan bangsa Indonesia. Untuk apa sih kesejahteraan bangsa Indonesia? Supaya setiap orang bisa sejahtera dalam memenuhi tujuan keberadaanya. Kesejahteraan bukan hanya berkaitan dengan kemakmuran fisik, tapi bagi saya merupakan juga keberhasilan saya memenuhi tujuan keberadaan saya.

Untuk apa sih negara Indonesia ada? Menurut saya negara ada sebagai “brotherhood” ato “fratérnité” yang menjamin bahwa setiap orang mampu menemukan tujuan keberadaanya dan mampu mengembangkan segala sesuatu yang ia miliki untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagai warga negara kita harus saling “menjaga punggung” agar orang2 di sekitar kita terus terdorong untuk mencari tau kebenaran dari tujuan keberadaanya dan memastikan bahwa kebutuhanya terpenuhi untuk memenuhi peran tersebut. Tentunya dengan tetap menyadari bahwa setiap orang punya kelemahan, hal yang manusiawi kalo seorang manusia berbuat kesalahan.

Untuk menjamin hal tersebut tentunya Indonesia harus menempatkan dirinya sejajar dengan bangsa lain, tidak lebih rendah ato lebih tinggi. Indonesia punya peranya sendiri di dunia ini, peran yang sangat penting, sama seperti peran negara2 lain. Peran yang berbeda, sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki negara kita. Apa sih kelebihan dan kekurangan kita? Apa sih peran kita? Itulah yang harus kita selami, itulah yang harus kita banggakan dan perjuangkan.

Antar elemen masyarakat tidak perlu lagi ada perasaan superior atau inferior. semua elemen penting. Tidak perlu merasa malu kalau memang tidak mampu, tidak perlu merasa malu kalau memang butuh bantuan orang lain. Tidak perlu merasa hebat kalau bisa melakukan sesuatu. Karena kita semua satu kubu di sini, kubu “Indonesia” dengan tujuan bersama. Satu elemen tidak lebih penting dari lainya. Karena keberadaan setiap orang ada tujuanya. Elemen yang satu harus menjaga yang lainya, karena elemen lainya tidak sempurna. Tujuan itulah yang harus kita selami.

Banyak orang yang mengartikan bahwa GKN adalah hanya program kerja Kabinet KM ITB 09/10. Hanya pemikiran rumit sebagian orang saja. Sebenarnya GKN adalah hal yg kita temukan di mana2. GKN adalah mencari tahu tujuan keberadaan kita dan bagaimana berkolaborasi untuk saling menjaga, untuk saling mendorong dalam mencapai tujuan masing2. GKN mengajar saya untuk fokus pada tujuan, bukan pada metode atau bungkus.

Ayo fokus pada tujuan keberadaan kita dan belajar untuk memahami bahwa terlepas dari apa yang dilakukan dunia ini kepada kita, kita berharga karena kita diciptakan berharga. Ayo saling mengempower untuk mencari tahu dan memperjuangkan panggilan hidup kita.

Naskah Kata Sambutan Wakil Wisudawan ITB pada Sidang Wisuda Kedua ITB tahun ajaran 2008/2009

Assalamualaikum Wr. Wb.,

Selamat Siang!

Perkenalkan nama saya Ronald Nehemia Marulitua Sinaga, dari Program Studi Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Izinkan saya berdiri di sini mewakili teman-teman wisudawan/wisudawati untuk menyampaikan sepatah dua kata pada hari yang berbahagia ini. Kita panjatkan puji Syukur ke hadapan Tuhan yang Maha Esa karena atas anugerahNya Sidang Wisuda Institut Teknologi ITB April 2009 dapat terlaksana pada hari ini. Pada hari ini 1319 mahasiswa ITB yang meliputi 860 mahasiswa Sarjana, 448 Magister, dan 11 Doktor telah dilantik tanda telah menamatkan masa studinya di ITB. Bagi ITB ini adalah salah satu wujud akuntabilitas yang dimilikinya sebagai institusi yang bertanggungjawab atas pengembangan ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi untuk mengawal perkembangan bangsa Indonesia sesuai dengan visi yang dimilikinya.

Hari ini saya ingin mengajak seluruh hadirin untuk memaknai kembali ITB dan peranya sebagai Institut yang sering kali didaulat “terbaik” oleh masyarakat. Institut Teknologi Bandung bukan hanya menjadi pusat pendidikan tetapi juga merupakan pusat kebudayaan, di mana ITB bukan hanya menghasilkan lulusan-lulusan saja tetapi harus mampu mengembangkan potensinya untuk menjadi rujukan masyarakat dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur. Sesuai  dengan visi ITB 2010 sebagai word class research university ITB perlu meningkatkan diri agar mampu menghasilkan inovasi-inovasi yang mampu memecahkan permasalahan bangsa. Sudah saatnya kita memposisikan ITB sebagai pusat peradaban bangsa, tidak hanya memecahkan persoalan, namun juga mampu merancang pengembangan masa depan Indonesia.

Tahun 2009 ini kita tiba pada momen Dies Emas, di mana pada usia emasnya ini ITB harus melakukan reflekasi akan perannya sebagai pusat peradaban bangsa Indonesia. Apakah ITB benar-benar telah menjadi rujukan untuk solusi masalah yang terdapat dalam masyarakat? Apakah ITB telah mampu bekerja sama dengan pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat madani yang kita dambakan? Apakah lulusan-lulusan ITB telah menjadi panutan-panutan dalam masyarakat yang mampu menggerakkan masyarakat untuk mengatasi masalah yang dihadapinya?

Izinkan saya mewakili wisudawan pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih kepada ITB yang memberikan kami, semua mahasiswa ITB, kesempatan untuk berperan serta mengemban esensi eksistensi ITB tersebut. Terima kasih untuk seluruh pimpinan ITB, seluruh pimpinan sekolah/ fakultas, dosen-dosen, dan seluruh staff non akademik yang telah membantu dan memfasilitasi kami dalam mendalami keilmuan kami, dalam mencari potensi diri kami, dan merancang agar potensi tersebut dapat berbuah sesuai dengan keberadaan kami sebagai insan akademis ITB yang memiliki amanah untuk mengemban amanah yang juga diemban oleh ITB. Terima kasih untuk kelas-kelas kuliah, untuk inspirasi-inspirasi, untuk perdebatan-perdebatan ilmiah, untuk canda dan tawa, yang semuanya penting dalam proses pendewasaan kami sebagai-sebagai insan-insan akademis.

Rasa terima kasih yang tidak akan pernah henti-hentinya kami persembahkan kepada orangtua dan keluarga kami, yang merupakan lingkungan pendidikan pertama dan terpenting buat kami. Budi pekerti baik, integritas, dan bagian-bagian penting dalam diri kami ditempa di bawah bimbingan orangtua di dalam keluarga. Segala yang kami capai saat ini adalah berkat kerja keras, kesabaran, dan kasih sayang mereka. Semoga seluruh nilai yang telah ditanamkan dan bimbingan yang diberikan, mampu bersinergi dengan semua hal yang kami peroleh di ITB, sehingga kami menjadi insan-insan ITB yang memiliki karakter dalam mengembang amanah kami. Ayah Ibu tersayang, rasanya baru kemarin Ayah dan Ibu mengantar kami ke sidang terbuka, hari pertama kami didaulat sebagai peserta didik institusi ini. Waktu berjalan dengan cepat, dan kini kami telah bertransformasi menjadi lulusan sarjana dan pasca sarjana yang tidak hanya memiliki pengetahuan, namun mengemban misi untuk mengeluarkan Indonesia dari krisis berkepanjangan. Hal yang sangat sulit dan membutuhkan kesabaran dan konsistensi untuk memperbaikinya, namun dengan doa Ayah Ibu, kami tentu bisa menuntaskan tugas besar ini dengan baik, sebagaimana kepercayaan dan dukungan Ayah Ibu yang telah menjadi energi terkuat kami untuk menyelesaikan studi di ITB.

Rekan-rekan wisudawan,

Harus kita sadari bahwa momen pelantikan wisuda ITB bukan hanya merupakan momen suka cita atas selesainya masa studi kita, momen wisuda ini juga merupakan momen untuk merefleksikan makna dari lulusnya kita dari ITB dan amanah yang dimiliki ITB sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Institut Teknologi Bandung didirikan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dan adalah milik masyarakat Indonesia. Hanya 2% dari penduduk yang menikmati pendidikan tinggi, dan tentunya 98% sisanya, mengharapkan bahwa 2% orang-orang yang terpilih tersebut mampu menjadi motor dalam terwujudnya masyarakat ideal yang menjadi harapan dari seluruh masyarakat Indonesia. Apapun yang kita lakukan setelah ini, menjadi politikus, akademisi, peneliti, wirausahawan, penggerak LSM, dll, pastikan bahwa teman-teman semua menjadi seorang negarawan yang paham masalah masyarakat, paham kondisi masyarakat yang ideal, dan paham menyusun langkah-langkah untuk mencapai kondisi masyarakat yang ideal dengan potensi yang ada. Tanggung jawab kita setelah ini bukan hanya mensejahterakan diri sendiri tetapi juga masyarakat yang memiliki ITB, ternasuk kita sebagai alumni. Saat masuk ke institut ini kita harus “menyisihkan” banyak orang lain, sengaja atau tidak, kita adalah orang-orang terpilih, maka kita pun harus berlaku seperti orang-orang terpilih. Orang-orang yang mau mengerti masalah bangsa, berani berbuat lebih buat untuk bangsanya, dan paham bagaimana caranya mengatasi permasalahan bangsanya.

Tak dapat kita pungkiri bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam keadaan yang terpuruk. Kita tertinggal di banyak lini mulai dari ekonomi sampai teknologi. Kehidupan bangsa kita sangat tergantung pada bangsa-bangsa lain, Indonesia adalah negara yang tidak mandiri, tidak menikmati kemerdekaanya. Banyak penduduk kita bahkan tidak punya mimpi akan kehidupan yang makmur dan sejahtera, karena untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja sulit. Di sinilah peran ITB penting untuk mampu mengolah idealitas-idealitas yang tumbuh di kampus, dan menyusun serta mengimplementasikan langkah-langkah untuk mewujudkan idealitas tersebut dalam kehidupan masyarakat. Sesungguhnya, masyarakat menggantungkan impianya akan idealitas science, art, dan technology dalam kehidupan mereka pada ITB.

ITB tidak mungkin mengharapkan lembaga lain menyelesaikan persoalan teknologi di Indonesia. Untuk itu, teknologi yang keIndonesiaan harus menjadi karakter kita, sebagai lulusan ITB yang mengamalkan nilai-nilai ITB, yaitu, kepeloporan, kejuangan, keunggulan, dan pengabdian masyarakat. Kita harus menjaga integritas kita sebagai Sarjana, Master, atau Doktor lulusan ITB, kata “ITB” di ijazah kita merupakan amanah besar, yang merupakan konsekuensi dari karunia yang kita peroleh untuk boleh berada di ITB, yang harus mampu kita tunaikan. Kata ITB di ijazah kita merupakan tanda seseorang yang memiliki penguasaan baik akan suatu ilmu dengan nilai-nilai utama kepeloporan, kejuangan, keunggulan, dan pengabdian masyarakat. Pastikan kita tetap berintegritas dengan kata ITB dalam ijazah kita tersebut.

Saat ini masalah-masalah yang ada bukanlah lagi masalah-masalah sektoral dan memiliki solusi close-ended. Masalah-masalah yang ada memerlukan penyelesaian holistik dengan cara penyelesaian yang tidak baku. Oleh karena itu kita harus sering mengasah keahlian kita dan memiliki keterbukaan pikiran untuk belajar dari berbagai sumber pembelajaran. Persoalan dan masa depan bangsa akan menjadi menjadi semangat dasar civitas akademikas ITB dalam mengembangkan keilmuanya di berbagai bidang, yaitu art, science, technology, (dan kini humaniora). Kolaborasi lintas bidang keilmuan merupakan konsekuensi logis, dan sekat antar bidang tidak relevan lagi kita perbincangkan. Seluruh kegiatan di ITB oleh seluruh elemennya, mulai dari pimpinan ITB, dosen, mahasiswa, staff, dan seluruh elemen yang ada, harus mampu bersinergi dan mendukung visi ITB. Institut Teknologi Bandung dan alumninya sudah tidak lagi dapat bekerja sendiri, harus ada simbiosis yang baik dengan pemerintah, industri, serta masyarakat sendiri. Kolaborasi ini memungkinkan munculnya solusi-solusi yang holistik dan kreatif serta inovatif.

Pertanyaannya, apakah kita siap bertemu dengan persoalan sebenarnya?

Apakah kita siap untuk berkolaborasi?

Apakah kita siap untuk bertanggungjawab atas keilmuan kita?

Kelulusan bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan sesungguhnya. Setelah berusaha mengenali diri kita dan mengembangkan potensi yang kita miliki selama mengikuti proses pendidikan di ITB, kini kita tiba di dunia yang sesungguhnya. Hari ini kita harus bangga, bukan hanya karena pencapaian akademis yang kita dapatkan, kita harus bangga karena mulai hari ini kita memperoleh amanah baru untuk menjadi scientist-scientist, seniman-seniman, dan engineer-engineer yang mampu menjadi orang hebat untuk masyarakatnya, mampu merekayasa keadaan masyarakat agar mampu menjadi masyarakat ideal yang mandiri dan sejahtera.

Mari kita perjuangkan mimpi Indonesia mandiri,

Mari kita jadi orang-orang yang berani menggagas, berubah, dan berkarya,

Mari kita penuhi panggilan kita sebagai bagian dari ITB,

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater. Merdeka!

Salam Ganesha!!!!!!

Ronald Nehemia Marulitua Sinaga
NIM. 13204025
Program Studi Teknik Elektro
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
Institut Teknologi Bandung

Being a good electrical engineering student…

Huff…

Exhausting it is to be a good student. Spending more time reading text books, visiting the library, solving problems…. but I’ve figured out that this is what I’ve got to do and I have got to fight to be a good student, besides, I love electrical engineering so much… I look at some of my friends at the laboratory (ITB Electric Energy Conversion Laboratory) who are “high-graded” academically, I envy them for the knowledge they have.

I regret for not being a good student these last three years at campus…. I hope that this last 3 semesters will pay for my laziness in my first 3 years…. must fight for it…

Starting my blog

Hello… At last I’ve started to write my own blog.. People said that writing is good to express ourselves…

I’m not a good “expressionist”,  maybe this blog is good for me to express myself more….

Enjoy…